Kamis, 20 Maret 2014

Cepen Karya Dhea Amalia "Teater Satujam"



LIANA

Dunia hayal

          Saat itu di sekolah, ketika pelajaran berlanjut tiba-tiba awan menjadi mendung dan gelap, angin bertiup kencang membuat seluruh siswa menjadi panik. Namun
        “Ravael?”
        “apa Liana?”
        “ada apa ini?”
        “ntahlah tapi yang jelas kamu jangan khawatir ya?”
        “iya.” Ucap Liana tenang. Namun angin bertambah sangat kencang, seperti akan datangnya badai. Siswapun semakin panik, berlarian keluar dari kelasnya mencari tempat yang aman. Mereka berkumpul di tengah lapang halaman sekolah, kecuali Liana, Ravael, dan Aini. Mereka berkumpul di dalam kelas.
        “Ravael, Aini? Aku takut semua ini terjadi. Aku takut Prilack bad datang kemari dan ingin membunuhku, aku takut.” Ucap Liana cemas.
        “siapa itu Prilack bad?,”kata Ravael  heran.
        “pangeran kegelapan dalam mimpiku, semalam aku bermimpi bertemu dengannya dan dia bilang akan menjemputku di dunia nyata. Aku harus di nikahinya tapi aku tidak mau.”
        “aneh-aneh saja kamu ini Liana? Mana mungkin!!” dengan raut wajah yang sinis.
        “kamu memang tidak akan pernah percaya ini, namun yang jelas sekarang aku sangat takut sekali.”
        “Liana yang tenang ya? Ayo sekarang kita keluar saja ya? Ayo,” ucap Aini membujuk Liana.
        Liana hanya menggelengkan kepalanya saja, tanda ia tidak mau. Ravaelpun kesal kepadanya.
        “Liana!! Kamu ini…,” tiba-tiba suara menakutkan memanggil Liana. “hah apa itu?” Ravael merasa heran.
        “oh tidak!! Dia datang, tolong aku..!” Liana memeluk Aini.
        “tenang Liana kami akan menolongmu,” Ainipun memeluk Liana.
***
        Sementara itu di lapangan sekolah semua berkumpul dengan rasa panik, anginpun datang semakin kencang dan awan menjadi gelap. Tiba-tiba datang seseorang memakai jubah berwarna hitam dari atas langit turun ke bawah dengan mata merah dan menyeramkan. Ternyata itu adalah Prilack bad yang berdiri diantara murid-murid serta guru-guru disekolah itu.
        “mana Leonaku!!!” dengan nada marah.
        “maaf anda ini siapa?” kata pak Dodi bertanya.
        “aku adalah Prilack bad, calon suami Leona. Mana Leonaku?”
        “Leona? Tidak ada gadis yang bernama Leona disini,”jawab pak Dodi heran.
        “hmm…,” Prilack memejamkan mata.”Leona adalah Liana, siswi disekolah ini. SMPN2 Nusa indah.”
        “Liana? Dari kelas mana? Mengapa anda ingin menikahi gadis yang di bawah umur” ucap bu Audy.
        “masa bodo aku tidak tahu..!!! mana Liana..? Liana bukan gadis kecil biasa dan aku ingin bertemu dengannya arrggghhhhtttt…” Prilackpun marah, hingga membuat semuanya menjadi ketakutan lalu berlarian mencari tempat persembunyian.
        “Liana? Dimana kau? Keluarlah..!!! aku tahu kau ada disini aarrrgghhtt..”
***
        Sementara itu Liana sedang terpuruk dalam ketakutannya dengan ditemani oleh Aini sahabatnya, dan Ravael yang sedang melihat keadaan diluar kelasnya. Tetapi oleh karena ruang kelas mereka jauh dari lapang sekolah, Ravael kesulitan untuk melihat keadaan disana. Namun tiba-tiba
        “aakkhhh..” Liana memegang lehernya.
        “Liana, kamu kenapa?” ucap Aini memegang pundak Liana.
        “ahh.. to..to..tolong aku akhh..” Lianapun merasakan sesuatu yang mencekiknya. Ravael yang melihatnyapun langsung berlari menuju Liana.
        “Liana? Ada apa? Kamu kenapa?” ucap Ravael cemas.
        “di..di..diaaa.. mee..meengeetahuuii.. akkk.. ahh.. akuuu..” berbicara terbata-bata.
        “oh tidak, Ravael kita mesti bagaimana? Kasian Liana,” ucap Aini dengan cemas.
        “aahh gawat..!!” kemudian Ravael melihat kearah kehernya Liana ada cahaya putih yang berbentuk seperti kalung.”hah.. apa itu?”
        Ravael dan Aini pun sangat terkejut melihat cahaya putih yang terang berbentuk seperti kalung yang melingkari lehernya Liana. Dan tiba-tiba dengan cepat Liana berdiri terbawa oleh cahaya itu, sehingga membuat Aini dan Ravael terjatuh.
        Kemudian Liana tertarik oleh kalung itu dan terbawa ke halaman sekolah menemui Prilack, sambil menahan rasa sakit yang mencekiknya. Liana pun terjatuh menunduk di hadapan Prilack.
        “hahaha.. akhirnya kau bertekuk lutut juga kepadaku.”
        “tidak!!! Aku tidak akan bertekuk lutut kepadamu!!” Liana melihat wajah Prilack dengan sangat marah, kemudian Liana mencoba menyerang dengan cara mendorongnya. Namun Liana malah terdorong dan terlempar mengenai pagar. Darahpun mengalir keluar dari mulutnya      “aaaaakkkkkhhhh…”
        “Liana!!!” Ravael dan Aini berteriak dan menghampiri Liana, namun Prilack mendorong mereka dengan cahaya hitamnya. Ravael dan Ainipun terlempar lalu berlari menuju kelas.
        “tidak ada yang boleh mengganggu aku..!!!”
***
        Di dalam ruang kelas Aini, Ravael dan teman-teman berdiskusi bagaimana caranya bisa mengalahkan Prilack.
        “Ravael gimana ini? Kasihan sahabat kita tersiksa disana. Masa kita hanya bisa bersembunyi didalam kelas saja?” ucap Aini bertanya kepada Ravael.
        “aku juga bingung Aini, bentar.”
        “bentar apa?”
        “mikir dulu.”
        “oh”
        “kok oh?” ucap Ravael bingung.
        “terus apa dong?”
        “ahh udah jangan bercanda, lagi genting nihh..”
        “genting bukannya tempat penampungan air?” ucap Tomi, menyela.
        “itu gentong..!!!” serentak teman-teman memarahi Tomi.
        “oh.. hehee..”
        “udah kenapa malah jadi bercanda sih? Orang lagi ketakutan juga,” ucap Sari memarahi Tomi.
***
Sementara itu dilapangan Liana sedang menahan rasa sakit yang dirasanya. Kemudian pak guru yang melihatnya pun tidak rela salah satu siswinya disiksa. Lalu pak guru datang dan mencegah Prilack. Namun naas, pak guru terlempar sangat jauh dan meninggal dunia. Liana yang melihatnya pun tidak terima. Dia kembali melawan berlari mendekati Prilack, namun saat Prilack mengarahkan tangannya kearah Liana tiba-tiba Liana terdiam kaku.
“hah.. ada apa ini? Kenapa kaki ini tidak bisa di gerakan?”
“kenapa Liana?” Prilack menghampiri Liana lalu berputar mengelilingi Liana. Dan memegang leher Liana.”hemm.. Liana, aku datang untuk menjemputmu. Jadi jangan kau coba-coba melawan!!!”
“tidak..!!! aku bukan permaisurimu,” Liana melawan.
Prilack pun mendorong Liana hingga terjatuh.
“ayo bangun Liana!!!”
Liana hanya merintih kesakitan.
“ayo lawan aku..!! keluarkan semua kekuatanmu.!!”
Lianapun menjadi sangat marah. Namun ia tidak boleh marah, jika kekuatan di keluarkan dia akan sangat lemah. Kemudian Liana kembali berdiri dan mengatur pernafasannya.
“aku tidak akan menjadi permaisurimu..!!”
“hahahaa… jika kau tidak ingin menjadi istriku, akan ku lukai semua teman-teman mu.”
“Tidakkk..!!!!”
        Prilackpun mengeluarkan cahaya hitam, dan cahaya itu masuk kedalam ruang kelas yang di dalamnya ada beberapa teman dan sahabatnya. Tiba-tiba mereka semua berteriak, ternyata Prilack mengirimkan teman-temannya semacam monster untuk menakuti siswa siswi.
        “Tidaaakkk…!!! Prilack hentikan..!! jangan kau lukai teman-temanku,” kemudian Lianapun menyerang, menghentikan semua itu. Namun Liana tidak memiliki kekuatan yang besar untuk melawannya. Dengan cepatnya Prilack melawan Liana. Amarah Liana pun tidak terkendalikan, dengan cepat Liana melawan Prilack dengan keadaan tidak sadar karena terbawa emosi. Prilackpun merasa senang karena sebentar lagi Liana akan lemas dan terjatuh.
        “hahahaa.. teruslah kau lawan aku..!!”
        “aarrrggghhhttt…,” Lianapun menyerang berlari dengan mata yang memerah. Kemudian Prilack menyetrum Liana dengan cahaya hitamnya, sehingga Lianapun pingsan tidak sadarkan diri.
        “hahaha.. akhirnya kau lelah juga.”
        Kemudian Prilack membawa Liana ke istana dengan pusaran angin yang sangat besar serta berwarna hitam. Prilack yang membawa Liana berada di dalam pusaran angin itu.
***
        Sesampainya di istana. Prilack menyuruh para dayang untuk melayani Liana, menjaganya jangan sampai Liana kabur dari istana itu. Kemudian Prilack membawa Liana ke sebuah kamar yang besar dan luas, dan dibaringkanlah Liana di atas kasur yang besar. Kemudian Prilack meninggalkan Liana. Para dayangnyapun masuk dan menggantikan pakaian Liana. Setelah beberapa lama kemudian Liana tersadar, perlahan dia membuka matanya.
        “hmm.. ahh.. akku., hah!! Dimana ini?” Liana terkejut.
        “tuan ada di istana hitam,” ucap dayang yang berada disebelah kanan Liana.
        “hah.. tuan?, istana hitam? Aku harus pulang,” Liana turun dari kasur namun di tahan oleh ke dua dayang itu.
        “tuan mau kemana? Sebaiknya tuan tidur kembali, tubuh tuan belum sembuh benar.”
        “tapi ini bukan rumahku..,” dengan kebingungan Liana berfikir bagaimana cara untuk keluar dari istana ini. Dalam hatinya berkata “hemm.. aku harus gimana ya? Ya Tuhan selamatkan aku.. emm, ahah.. iya, mendingan aku pura-pura ingin makan makanan yang sulit dicari dan minum minuman yang sulit di mengerti.
        “hemm.. dayang? Saya boleh meminta?”
        “iya tuan”
        “minta apa saja boleh?”
        “iya tuan boleh apa saja, pasti kami akan laksanakan tuan.”
        “hemm.. jika begitu.. saya lapar dan ingin makan. Saya ingin bebek balado dan minuman susu soda strawberry.”
        Walaupun Liana memiliki kekuatan lebih dari manusia pada umumnya dia hanyalah seorang anak yang polos dan masih kekanak-kanakkan. Dayang yang menjaga Liana pun bingung. Tidak mengerti makanan apa itu.
        “maaf tuan, bebek balado itu apa?”
        “dan susu soda itu apa?” ucap dayang yang ke dua bertanya.
        “hemm.. itu semua adalah makan kesukaan saya. Dan kalian mesti membawakannya.”
        “hemm iya baiklah tuan,” kemudian para dayang itu pergi.
        Liana memikirkan kembali lewat mana ia mesti pergi. Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu.
        “siapa itu?” ucap Liana berteriak pelan.
        “sssttt, Liana ini aku Diran, cepat buka pintunya,” berkata pelan.
        “hah.. Diran?” dengan cepat Liana membuka pintu. Ketika Diran sudah ada di depannya, Liana memeluk Diran. “Diran, aku senang kamu datang tapi bagaimana bisa kamu datang kemari?”
        “hmm.. ketika kamu di siksa, aku membawa kain hitam. Jadi aku pakai untuk menutupi seragam ini. Dan aku diam di belakang para pengikut Prilack, hingga akhirnya aku bisa datang ke tempat ini. Ya sudah ayo kita keluar!!”
        “tunggu..!! tapi bagaimana caranya?”
        “pintu keluarnya ada di gerbang. Jadi kita mesti berjalan sangat pelan agar tidak ketahuan oleh para penjaga istana ini.”
        “hmm.. iya ayo..!!”
        Liana dan Diranpun berjalan melintasi satu persatu para penjaga. Setiap kali penjaga itu datang, mereka bersembunyi. hingga akhirnya sampailah mereka di gerbang. pintu masuk dunia nyata ada disebelah kiri gerbang itu.
        “Liana itu pintunya.”
        “iya ayo kita cepat pulang..!!”
        Ketika mereka akan memasuki pintu menuju dunia nyata, tiba-tiba Prilack datang memergoki mereka yang hendak kabur.
        “heyy.. kalian mau kemana?” dengan nada yang tinggi Prilack berteriak.
        “hah.. ayo Liana!!” Diran menarik Liana.
        “iya”
        Kemudian Prilack dengan cepat mengeluarkan kekuatannya untuk menahan mereka, berupa cahaya yang berwarna hitam. Hingga membuat Diran dan Liana terlempar. Diran yang terjatuhpun langsung pingsan tak sadarkan diri akibat benturan yang sangat keras. Liana yang melihatnyapun menjadi sangat marah. Emosi Liana keluar kembali, namun kini dia bisa mengendalikannya. Liana mengeluarkan cahaya berwarna putih dalam dirinya yang merubah penampilannya menjadi sangat cantik dan berpakaian seperti pahlawan atau super hero dalam dongeng.
        “aahhhh,,… Prilack.. aku tidak sudi kau melukai temanku..!!” dengan wajah sangat marah Liana menyerang Prilack. “rasakan ini Prilack bad..!!!”
        Liana bertarung melawan Prilack, mereka saling menyerang. Liana menyerang dengan emosi yang tinggi, hingga membuat Prilack kewalahan. Disamping mereka bertarung Liana berkata, “Kau telah membunuh guruku, dan kini kau lukai temanku…!!! Akan ku balas kau.. aaaaaa…” Liana mengeluarkan cahaya suci yang berwarna putih. Cahaya itu tercipta dari rasa cinta yang dia miliki terhadap orang-orang yang disayanginya, sehingga jika ada orang yang melukai teman-teman atau keluarganya, ia akan sangat marah. Beberapa lama menyerang akhirnya Prilack terkena cahaya tersebut dan tubuhnya meledak menjadi abu. Sesudah itu Liana berlari menuju Diran. Liana menatap wajah Diran, kemudian menyentuh kepala Diran. Tangan Liana mengeluarkan cahaya, ternyala ia bermaksud untuk menyembuhkan luka Diran dan menyadarkannya. Diran pun tersadar dan mengagumi Liana.
        “hah Liana? Kau tampak cantik, apa kau tidak apa-apa? Lalu Prilack?”
        “dia telah mati, tapi aku tidak tahu apakah dia akan mati atau hanya menghilang untuk sementara. Tapi yang jelas ayo sekarang kita pulang yukk!!” Liana membangunkan Diran dan keluar dari tempat itu. Akhirnya mereka berhasil keluar dari istana hitam yang seram tersebut. Dan hari sudah larut malam. Ketika mereka sedang berjalan tiba-tiba ada suara memanggil Liana. Lianapun melirik kebelakang dan ternyata itu Prilack melemparkan pisau kearah wajahnya. Dengan cepat pisau itu akan menusuk wajahnya.
        “Liana? Liana?” Aini membangunkan Liana
        “hemm… hah..!!” terkejut.
        “Liana, kau tertidur lagi ya?, ini sudah waktunya pulang.. ayo bangun, untung tadi sedang tidak ada guru,” ucap Aini dengan wajah cemberut.
        “ohh iya? Hehee maaf,” Liana menggaruk-garuk kepala, dan dalam hatinya berkata “ternyata itu hanya mimpi huufff.. untunglah.”

        Ternyata semua itu hanyalah bunga tidur, Liana tertidur saat jam terakhir. Lalu Aini mengajaknya pulang, dengan perasaan lega dia berjalan dan tersenyum

…..selesai…..