LIANA
Dunia hayal
Saat itu di sekolah, ketika
pelajaran berlanjut tiba-tiba awan menjadi mendung dan gelap, angin bertiup
kencang membuat seluruh siswa menjadi panik. Namun
“Ravael?”
“apa Liana?”
“ada apa ini?”
“ntahlah tapi yang jelas kamu jangan
khawatir ya?”
“iya.” Ucap Liana tenang. Namun angin
bertambah sangat kencang, seperti akan datangnya badai. Siswapun semakin panik,
berlarian keluar dari kelasnya mencari tempat yang aman. Mereka berkumpul di
tengah lapang halaman sekolah, kecuali Liana, Ravael, dan Aini. Mereka
berkumpul di dalam kelas.
“Ravael, Aini? Aku takut semua ini
terjadi. Aku takut Prilack bad datang kemari dan ingin membunuhku, aku takut.”
Ucap Liana cemas.
“siapa itu Prilack bad?,”kata
Ravael heran.
“pangeran kegelapan dalam mimpiku,
semalam aku bermimpi bertemu dengannya dan dia bilang akan menjemputku di dunia
nyata. Aku harus di nikahinya tapi aku tidak mau.”
“aneh-aneh saja kamu ini Liana? Mana
mungkin!!” dengan raut wajah yang sinis.
“kamu memang tidak akan pernah percaya
ini, namun yang jelas sekarang aku sangat takut sekali.”
“Liana yang tenang ya? Ayo sekarang kita
keluar saja ya? Ayo,” ucap Aini membujuk Liana.
Liana hanya menggelengkan kepalanya
saja, tanda ia tidak mau. Ravaelpun kesal kepadanya.
“Liana!! Kamu ini…,” tiba-tiba suara
menakutkan memanggil Liana. “hah apa itu?” Ravael merasa heran.
“oh tidak!! Dia datang, tolong aku..!”
Liana memeluk Aini.
“tenang Liana kami akan menolongmu,”
Ainipun memeluk Liana.
***
Sementara itu di lapangan sekolah semua
berkumpul dengan rasa panik, anginpun datang semakin kencang dan awan menjadi
gelap. Tiba-tiba datang seseorang memakai jubah berwarna hitam dari atas langit
turun ke bawah dengan mata merah dan menyeramkan. Ternyata itu adalah Prilack
bad yang berdiri diantara murid-murid serta guru-guru disekolah itu.
“mana Leonaku!!!” dengan nada marah.
“maaf anda ini siapa?” kata pak Dodi
bertanya.
“aku adalah Prilack bad, calon suami Leona. Mana Leonaku?”
“aku adalah Prilack bad, calon suami Leona. Mana Leonaku?”
“Leona? Tidak ada gadis yang bernama
Leona disini,”jawab pak Dodi heran.
“hmm…,” Prilack memejamkan mata.”Leona
adalah Liana, siswi disekolah ini. SMPN2 Nusa indah.”
“Liana? Dari kelas mana? Mengapa anda
ingin menikahi gadis yang di bawah umur” ucap bu Audy.
“masa bodo aku tidak tahu..!!! mana
Liana..? Liana bukan gadis kecil biasa dan aku ingin bertemu dengannya
arrggghhhhtttt…” Prilackpun marah, hingga membuat semuanya menjadi ketakutan
lalu berlarian mencari tempat persembunyian.
“Liana? Dimana kau? Keluarlah..!!! aku
tahu kau ada disini aarrrgghhtt..”
***
Sementara itu Liana sedang terpuruk
dalam ketakutannya dengan ditemani oleh Aini sahabatnya, dan Ravael yang sedang
melihat keadaan diluar kelasnya. Tetapi oleh karena ruang kelas mereka jauh
dari lapang sekolah, Ravael kesulitan untuk melihat keadaan disana. Namun
tiba-tiba
“aakkhhh..” Liana memegang lehernya.
“Liana, kamu kenapa?” ucap Aini memegang
pundak Liana.
“ahh.. to..to..tolong aku akhh..”
Lianapun merasakan sesuatu yang mencekiknya. Ravael yang melihatnyapun langsung
berlari menuju Liana.
“Liana? Ada apa? Kamu kenapa?” ucap
Ravael cemas.
“di..di..diaaa.. mee..meengeetahuuii..
akkk.. ahh.. akuuu..” berbicara terbata-bata.
“oh tidak, Ravael kita mesti bagaimana?
Kasian Liana,” ucap Aini dengan cemas.
“aahh gawat..!!” kemudian Ravael melihat
kearah kehernya Liana ada cahaya putih yang berbentuk seperti kalung.”hah.. apa
itu?”
Ravael dan Aini pun sangat terkejut
melihat cahaya putih yang terang berbentuk seperti kalung yang melingkari
lehernya Liana. Dan tiba-tiba dengan cepat Liana berdiri terbawa oleh cahaya
itu, sehingga membuat Aini dan Ravael terjatuh.
Kemudian Liana tertarik oleh kalung itu
dan terbawa ke halaman sekolah menemui Prilack, sambil menahan rasa sakit yang
mencekiknya. Liana pun terjatuh menunduk di hadapan Prilack.
“hahaha.. akhirnya kau bertekuk lutut
juga kepadaku.”
“tidak!!! Aku tidak akan bertekuk lutut
kepadamu!!” Liana melihat wajah Prilack dengan sangat marah, kemudian Liana
mencoba menyerang dengan cara mendorongnya. Namun Liana malah terdorong dan
terlempar mengenai pagar. Darahpun mengalir keluar dari mulutnya “aaaaakkkkkhhhh…”
“Liana!!!” Ravael dan Aini berteriak dan
menghampiri Liana, namun Prilack mendorong mereka dengan cahaya hitamnya.
Ravael dan Ainipun terlempar lalu berlari menuju kelas.
“tidak ada yang boleh mengganggu
aku..!!!”
***
Di dalam ruang kelas Aini, Ravael dan
teman-teman berdiskusi bagaimana caranya bisa mengalahkan Prilack.
“Ravael gimana ini? Kasihan sahabat kita
tersiksa disana. Masa kita hanya bisa bersembunyi didalam kelas saja?” ucap
Aini bertanya kepada Ravael.
“aku juga bingung Aini, bentar.”
“bentar apa?”
“mikir dulu.”
“oh”
“kok oh?” ucap Ravael bingung.
“terus apa dong?”
“ahh udah jangan bercanda, lagi genting
nihh..”
“genting bukannya tempat penampungan
air?” ucap Tomi, menyela.
“itu gentong..!!!” serentak teman-teman
memarahi Tomi.
“oh.. hehee..”
“udah kenapa malah jadi bercanda sih?
Orang lagi ketakutan juga,” ucap Sari memarahi Tomi.
***
Sementara
itu dilapangan Liana sedang menahan rasa sakit yang dirasanya. Kemudian pak
guru yang melihatnya pun tidak rela salah satu siswinya disiksa. Lalu pak guru
datang dan mencegah Prilack. Namun naas, pak guru terlempar sangat jauh dan
meninggal dunia. Liana yang melihatnya pun tidak terima. Dia kembali melawan
berlari mendekati Prilack, namun saat Prilack mengarahkan tangannya kearah
Liana tiba-tiba Liana terdiam kaku.
“hah..
ada apa ini? Kenapa kaki ini tidak bisa di gerakan?”
“kenapa
Liana?” Prilack menghampiri Liana lalu berputar mengelilingi Liana. Dan
memegang leher Liana.”hemm.. Liana, aku datang untuk menjemputmu. Jadi jangan
kau coba-coba melawan!!!”
“tidak..!!!
aku bukan permaisurimu,” Liana melawan.
Prilack
pun mendorong Liana hingga terjatuh.
“ayo
bangun Liana!!!”
Liana
hanya merintih kesakitan.
“ayo
lawan aku..!! keluarkan semua kekuatanmu.!!”
Lianapun
menjadi sangat marah. Namun ia tidak boleh marah, jika kekuatan di keluarkan
dia akan sangat lemah. Kemudian Liana kembali berdiri dan mengatur
pernafasannya.
“aku
tidak akan menjadi permaisurimu..!!”
“hahahaa…
jika kau tidak ingin menjadi istriku, akan ku lukai semua teman-teman mu.”
“Tidakkk..!!!!”
Prilackpun mengeluarkan cahaya hitam,
dan cahaya itu masuk kedalam ruang kelas yang di dalamnya ada beberapa teman
dan sahabatnya. Tiba-tiba mereka semua berteriak, ternyata Prilack mengirimkan
teman-temannya semacam monster untuk menakuti siswa siswi.
“Tidaaakkk…!!! Prilack hentikan..!!
jangan kau lukai teman-temanku,” kemudian Lianapun menyerang, menghentikan
semua itu. Namun Liana tidak memiliki kekuatan yang besar untuk melawannya.
Dengan cepatnya Prilack melawan Liana. Amarah Liana pun tidak terkendalikan,
dengan cepat Liana melawan Prilack dengan keadaan tidak sadar karena terbawa
emosi. Prilackpun merasa senang karena sebentar lagi Liana akan lemas dan
terjatuh.
“hahahaa.. teruslah kau lawan aku..!!”
“aarrrggghhhttt…,” Lianapun menyerang
berlari dengan mata yang memerah. Kemudian Prilack menyetrum Liana dengan
cahaya hitamnya, sehingga Lianapun pingsan tidak sadarkan diri.
“hahaha.. akhirnya kau lelah juga.”
Kemudian Prilack membawa Liana ke istana
dengan pusaran angin yang sangat besar serta berwarna hitam. Prilack yang
membawa Liana berada di dalam pusaran angin itu.
***
Sesampainya di istana. Prilack menyuruh para
dayang untuk melayani Liana, menjaganya jangan sampai Liana kabur dari istana
itu. Kemudian Prilack membawa Liana ke sebuah kamar yang besar dan luas, dan
dibaringkanlah Liana di atas kasur yang besar. Kemudian Prilack meninggalkan
Liana. Para dayangnyapun masuk dan menggantikan pakaian Liana. Setelah beberapa
lama kemudian Liana tersadar, perlahan dia membuka matanya.
“hmm.. ahh.. akku., hah!! Dimana ini?”
Liana terkejut.
“tuan ada di istana hitam,” ucap dayang
yang berada disebelah kanan Liana.
“hah.. tuan?, istana hitam? Aku harus
pulang,” Liana turun dari kasur namun di tahan oleh ke dua dayang itu.
“tuan mau kemana? Sebaiknya tuan tidur
kembali, tubuh tuan belum sembuh benar.”
“tapi ini bukan rumahku..,” dengan
kebingungan Liana berfikir bagaimana cara untuk keluar dari istana ini. Dalam
hatinya berkata “hemm.. aku harus gimana ya? Ya Tuhan selamatkan aku.. emm,
ahah.. iya, mendingan aku pura-pura ingin makan makanan yang sulit dicari dan
minum minuman yang sulit di mengerti.
“hemm.. dayang? Saya boleh meminta?”
“iya tuan”
“minta apa saja boleh?”
“iya tuan boleh apa saja, pasti kami
akan laksanakan tuan.”
“hemm.. jika begitu.. saya lapar dan
ingin makan. Saya ingin bebek balado dan minuman susu soda strawberry.”
Walaupun Liana memiliki kekuatan lebih
dari manusia pada umumnya dia hanyalah seorang anak yang polos dan masih
kekanak-kanakkan. Dayang yang menjaga Liana pun bingung. Tidak mengerti makanan
apa itu.
“maaf tuan, bebek balado itu apa?”
“dan susu soda itu apa?” ucap dayang
yang ke dua bertanya.
“hemm.. itu semua adalah makan kesukaan
saya. Dan kalian mesti membawakannya.”
“hemm iya baiklah tuan,” kemudian para
dayang itu pergi.
Liana memikirkan kembali lewat mana ia
mesti pergi. Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu.
“siapa itu?” ucap Liana berteriak pelan.
“sssttt, Liana ini aku Diran, cepat buka
pintunya,” berkata pelan.
“hah.. Diran?” dengan cepat Liana
membuka pintu. Ketika Diran sudah ada di depannya, Liana memeluk Diran. “Diran,
aku senang kamu datang tapi bagaimana bisa kamu datang kemari?”
“hmm.. ketika kamu di siksa, aku membawa
kain hitam. Jadi aku pakai untuk menutupi seragam ini. Dan aku diam di belakang
para pengikut Prilack, hingga akhirnya aku bisa datang ke tempat ini. Ya sudah
ayo kita keluar!!”
“tunggu..!! tapi bagaimana caranya?”
“pintu keluarnya ada di gerbang. Jadi
kita mesti berjalan sangat pelan agar tidak ketahuan oleh para penjaga istana
ini.”
“hmm.. iya ayo..!!”
Liana dan Diranpun berjalan melintasi
satu persatu para penjaga. Setiap kali penjaga itu datang, mereka bersembunyi.
hingga akhirnya sampailah mereka di gerbang. pintu masuk dunia nyata ada
disebelah kiri gerbang itu.
“Liana itu pintunya.”
“iya ayo kita cepat pulang..!!”
Ketika mereka akan memasuki pintu menuju
dunia nyata, tiba-tiba Prilack datang memergoki mereka yang hendak kabur.
“heyy.. kalian mau kemana?” dengan nada
yang tinggi Prilack berteriak.
“hah.. ayo Liana!!” Diran menarik Liana.
“iya”
Kemudian Prilack dengan cepat
mengeluarkan kekuatannya untuk menahan mereka, berupa cahaya yang berwarna
hitam. Hingga membuat Diran dan Liana terlempar. Diran yang terjatuhpun
langsung pingsan tak sadarkan diri akibat benturan yang sangat keras. Liana
yang melihatnyapun menjadi sangat marah. Emosi Liana keluar kembali, namun kini
dia bisa mengendalikannya. Liana mengeluarkan cahaya berwarna putih dalam
dirinya yang merubah penampilannya menjadi sangat cantik dan berpakaian seperti
pahlawan atau super hero dalam dongeng.
“aahhhh,,… Prilack.. aku tidak sudi kau
melukai temanku..!!” dengan wajah sangat marah Liana menyerang Prilack.
“rasakan ini Prilack bad..!!!”
Liana bertarung melawan Prilack, mereka
saling menyerang. Liana menyerang dengan emosi yang tinggi, hingga membuat
Prilack kewalahan. Disamping mereka bertarung Liana berkata, “Kau telah
membunuh guruku, dan kini kau lukai temanku…!!! Akan ku balas kau.. aaaaaa…”
Liana mengeluarkan cahaya suci yang berwarna putih. Cahaya itu tercipta dari
rasa cinta yang dia miliki terhadap orang-orang yang disayanginya, sehingga
jika ada orang yang melukai teman-teman atau keluarganya, ia akan sangat marah.
Beberapa lama menyerang akhirnya Prilack terkena cahaya tersebut dan tubuhnya
meledak menjadi abu. Sesudah itu Liana berlari menuju Diran. Liana menatap
wajah Diran, kemudian menyentuh kepala Diran. Tangan Liana mengeluarkan cahaya,
ternyala ia bermaksud untuk menyembuhkan luka Diran dan menyadarkannya. Diran
pun tersadar dan mengagumi Liana.
“hah Liana? Kau tampak cantik, apa kau
tidak apa-apa? Lalu Prilack?”
“dia telah mati, tapi aku tidak tahu
apakah dia akan mati atau hanya menghilang untuk sementara. Tapi yang jelas ayo
sekarang kita pulang yukk!!” Liana membangunkan Diran dan keluar dari tempat
itu. Akhirnya mereka berhasil keluar dari istana hitam yang seram tersebut. Dan
hari sudah larut malam. Ketika mereka sedang berjalan tiba-tiba ada suara
memanggil Liana. Lianapun melirik kebelakang dan ternyata itu Prilack
melemparkan pisau kearah wajahnya. Dengan cepat pisau itu akan menusuk
wajahnya.
“Liana? Liana?” Aini membangunkan Liana
“hemm… hah..!!” terkejut.
“Liana, kau tertidur lagi ya?, ini sudah
waktunya pulang.. ayo bangun, untung tadi sedang tidak ada guru,” ucap Aini
dengan wajah cemberut.
“ohh iya? Hehee maaf,” Liana
menggaruk-garuk kepala, dan dalam hatinya berkata “ternyata itu hanya mimpi
huufff.. untunglah.”
Ternyata semua itu hanyalah bunga tidur,
Liana tertidur saat jam terakhir. Lalu Aini mengajaknya pulang, dengan perasaan
lega dia berjalan dan tersenyum
…..selesai…..